Selasa, 24 November 2020

Murid ku

 
Murid ku
Kau adalah ladang ku
Dari waktu ke waktu
Kulangkahkan kaki ku
Menuju tempat menuntut ilmu

Kutanam benih-benih dalam jiwamu
Dengan harapan tunas-tunas baru
Kuberikan pupuk untuk mu
Agar kau tumbuh subur

Dalam kesuburan mu
Tak luput dari perawatan yang baik
Agar tidak tersentuh dengan hama
Yang menyebabkan tanaman jadi rusak

Murid ku
Dalam lubuk hatiku
Kuucapkan pula terimakasih pada mu
Jika ilmu yang kau dapat bisa bermanfaat

Dengan ilmu manfaat
Hidup tidak berat
Tidak pula berkarat
Tapi selamat dunia dan akhirat




Minggu, 22 November 2020

Reuni

 Jelang libur panjang dan lebaran

Reuni mulai digencarkan

Dari reuni SD sampai kuliahan

Berkumpul melepas rindu

Dari sekian tahun tak bertemu


Reuni 

wadah silaturahim

Tuk bangun kembali komunikasi

Yang sekian lama tak terjadi


Reuni

Mengingat kembali masa lama

Dimana semua jadi sahabat

Dengan berbagi suka duka

Memperjuangkan sekolah dan kuliah


Reuni

Ajang saling berbagi

Saling mengasihi

Bukan saling memamerkan diri





Sabtu, 21 November 2020

Generasi z

Generasi z

GenerasiNet

Tak lepas dari Gadget dan internet

 Instan , kenyamanan suatu keenakan


Popularitas mudah didapatkan

Unggahan  berstyle ditunjukkan

Hedonisme tak ketinggalan

Dari urat nadi kehidupan


Belanja online disenangi

Sekaligus pelaku industri ekonomi 

Yang kreatif di dunia maya


Uangpun tak lagi tuk investasi

Tapi tuk fashion traveling dan kuliner

 Generasi x berpesan

Kuatkan akar pohon keimanan

Agar selamat dunia dan usai kematian



Jumat, 20 November 2020

Beban Bumi

Bumi kini sedang ricau

Dia tanggung di atas punggung

Walau tidak ingin menampung

Terpaksa ia tampung

Karena matahari masih mendukung


Terlihatlah api dalam sekam

Yang kian lama kian memanas


Bumi berkata

Wahai penghuni bumi

Sekarang kau injak-injak punggungku

Takkan lama kau tinggal di punggungku

Sebentar akan berada di perutku


Cacing-cacing sedang menungu

Daging mu yang dirindu


Bumi berkata

Bercocok tanamlah di punggungku

Dengan pilih bibit unggul

Kau tanam dilahan yang subur

Rawatlah dengan betul-betul

Insyaallah akan makmur


Bumi berkata

Dengan hasil subur makmur

Kala nanti diperutku

Kau tak kan hancur lebur


Kamis, 19 November 2020

Sarung Bantal

 Anakku kecil

Anakku mungil 

Kini terpanggil mengisi hati

Ananda jalani disalafi

Agar takkemasukkan angin tak berarti


Tapi tak mesti khawatir

Itu yang harus ananda setir

Untuk menjalankan mesin

Agar tak terjungkir


Walau ananda rindu sarung dan bantal 

Yang ananda tinggalkan 


Tutup buka siang malam

Ananda akan kembali pulang

Dengan harapan ciptakan hati gemilang

Dan memberikan cahaya yang cemerlang



Senin, 16 November 2020

Pencaharianku

Fajar telah kembali

Kusambut dengan berseri

Kulihat awak berenergi

Tertanda telah pulih lagi


Kusediakakan bantalan pagi

Tuk mengisi tulang besi

Terdengar suara mesin beroperasi

Simbol sepak terjang dimulai


Balok demi balok tertumpuk

Dengan kaki maju mundur

Kau tahan berat perut merapat


Tak usah getir dan rusuh pikiran

Wahai para karyawan

Mari kita bersama-sama

Isi kehidupan

Dengan ciptakan pohon kesejahteraan



Minggu, 15 November 2020

Pemulung Mengaji

Anak  pemulung

Viral di medsos melambung

Terlihat duduk bukan termenung

Ditemani satu karung

Yang setia dan selalu mendukung

Dalam kehidupan bersambung

Saat turun hujan

Dilantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an

Sambil duduk di depan toko emperan

Sungguh pemandangan yang menakjubkan

Tak sangka nasibnya berganti

Sang syekh angkat jadi anak yang dicintai

Ini adalah bukti dari Sang Illahi

Tidak ada yang direndahkan

Diremehkan

Disengsarakan

Di dunia maupun di akhirat

Dengan cintanya pada Al-Qur'an




Sabtu, 14 November 2020

Si Kecil Pencuri

 

Sekawanan anak muda hadir dalam persepsi

Seorang diantaranya melihat guru SD yang dicintai

Lalu pemuda itu

Menyalami penuh santun

Ia bertanya kepada gurunya

Bapak masih ingat saya

Tidak

Pemuda itu menggerutu dalam kalbu

Mengapa guruku tak ingat aku

Padahal aku adalah sikecil pencuri waktu itu

Kucuri barang milik temanku

Menangis lah temanku itu

Lalu guruku meminta murid-murid maju

Untuk pemeriksaan saku

Kau geledah saku satu persatu

Dengan mata ditutup selalu

Sampai selesai kau lakukan itu

Setelah itu

Menyuruh semua murid duduk kembali

Kau perlihatkan barang yang dicuri

Tapi tidak kau sebut nama pencuri

Kupikir aku akan dipermalukan

Dihadapan guru dan kawan- kawan

Lalu kau sematkan gelar pencuri

Yang jangan di temani lagi

Sepanjang kumenuntut ilmu di sekolah itu

Kau tak pernah bicara perbuatanku

Seorang pun tidak ada yang tahu

Dengan kasusku itu

Engkau masih ingat pak guru

Bagaimana bisa engkau tidak mengingat ku

Sungguh saya tidak mengingat mu

Karena waktu itu kututup pula mataku

Agar aku tidak mengenalmu

Terhijab

Karya Imas Masruroh


Air mengalir dari hulu ke hilir

Hujan turun dari langit  ke bumi

Menumbuhkan tunas - tunas baru

Dengan harapan subur makmur


Tapi Surya kini tak lagi bersinar

Menerangi bumi yang terhampar 

Yang kini tanaman tumbuh terdampar

Akar pohon ranting daun terpapar


Oh sang hawa

Lepaslah kau dari raga

Jangan kau jadi raja

Karena kau malapetaka




Minggu, 08 November 2020

Covid bernyanyi

 Karya Imas Masruroh


Kulihat manusia riang gembira

Berpesta ria di mana-mana

Gemerlapan lampu bercahaya

Memancarkan cahaya cinta


Aku senang memandangnya

Kuhampiri tuk menemuinya

Berkenalan dengan dirinya

Kuikut bernyanyi bersamanya


Kulantunkan lagu yang merdu

Yang penuh dengan syahdu

Dan takkan terlupakan ditelingamu

Mengiung ngiung sepanjang hayatmu


Mereka tak menyadari dengan diriku

Aku bersenandung mengingatkan mu

Agar kau kembali pada Tuhan mu




Bumi Menangis

 Karya Imas Masruroh


Masjid-masjid membiarkan keheningan

Tahmid tasbih terbisukan

Takbir meninggi di langit terpadamkan

Bumi merasakan kekeringan


Kini mereka kebingungan

Apa yang harus dipertahankan

Dalam jantung manusia pilihan

Tak gentar dihadapkan kepelikan


Bedug tak mampu ditabuh

Batin takkan lumpuh disentuh

Tahmid tasbih takbir  dikalbu

Walau dunia membatu


Sabtu, 07 November 2020

Maulid Nabi

 Karya Imas Masruroh


Telah terlahir bayi laki-laki di bumi Mekah

Dari Sang wanita bernama Siti Aminah

Dan Sang ayah bernama Abdullah

Pada hari Senin 12 rabiul awal tahun gajah

Saat Ka'bah diserang  bala tentara abrahah


Siapa bayi laki-laki itu

Beliau adalah junjungan alam semesta

Yang membawa bumi dari kegelapan menuju terang benderang

Dan tak hanya itu

Beliaulah yang mengangkat manusia dari neraka menuju ke surga

Beliau adalah Nabi Besar Muhammad Saw

Yang membawa kebahagiaan dunia akhirat 




Jumat, 06 November 2020

Belajar Daring

 Karya Imas Masruroh


Kemarin kubelajar di sekolah

Dengan penuh riang gembira

Tiap pagi bertatap muka

Bersama guru dan teman tercinta


Kuucapkan salam dengan cium tangan

Tangan yang penuh keikhlasan

Kini tangan itu entah dimana

Yang rasanya ingin sekali menciumnya


Terbayang wajahnya yang garang

Saat aku dan siswa siswi melanggar peraturan

Maafkanlah atas kesalahan yang kulakukan

Kau adalah jembatan kehidupan


Sekarang kubelajar dari rumah

Yang tak lagi bermuajahah

Yang ada hanya keluh kesah

Memikirkan tugas sekolah yang susah


Ingin rasanya kembali belajar ke sekolah

Dengan memakai pakaian seragam sekolah

Sambil menyandang tas sekolah


Ya Allah ya Tuhanku

Sampai kapan belajar ini daring

Yang membuatku pusing tujuh keliling

Ditambah kuota dan signal kering

Kegiatan pagi hari

 Karya Imas Masruroh

Matahari terbit dari timur

Tanda pagi hari mulai berbaur

Aktivitas pun menjalur

Dari hulu sampai ke hilir

Dari magrib sampai ke masrik


Mereka tak lelah

Mencari nafkah

Dalam kehidupan berkiprah


Ada yang pergi ke sawah

Ada yang pergi ke sekolah

Ada yang pergi ke kantor

Ada pula yang ngojek motor

Mereka lakukan semua itu

Tak luput tuk nyambung hidup

Selama nafas belum ditutup



Kamis, 05 November 2020

Matahari tidur

 Karya: Imas Masruroh

Kala matahari kembali ke tempat tidurnya

Dunia jadi gelap gulita

Teriaklah manusia

Dengan teriakan, gelap gelap gelap


Tapi tetap tak sadarkan diri

Tak menyadari apa yang terjadi

Inilah malam hari


Disaat matahari tak bangun 

Sontak manusia bingung

Berfikir termenung menung

Dengan raut wajah yang murung


Sadarlah wahai makhluk jagat raya

Sebentar lagi kita tak ada di alam pana

Beriman dan bertaqwalah kepada Nya

Agar bahagia di alam nyata

Ayah ibu

 Karya : Imas Masruroh

Kulihat tubuhmu tak lagi kukuh

Yang dulu sangat tangguh

Tuk mengurus anak anak tumbuh

Betapa hatiku sangat tersentuh


Ayah ibu

Tidak ada kata yang tersimpan

Hanya kata terima kasih kuucapkan

Pada ayah ibuku tersayang

Berkatmu, kini aku menjadi tumbuh besar


Dulu aku kecil

Yang tak bisa makan, minum,mandi sendiri

Kau telah mengurusi

Dengan sepenuh hati


Ayah ibu

Maafkanlah anakmu

Yang memberatkanmu dalam membesarkan ku


Ayah ibu

Maafkanlah anakmu

Kau tak lelah mendidikku, mengajar ku

Agar jadi insan yang tawadu


Ayah ibu

Maafkanlah anakmu

Jika hingga kini, masih merepotkanmu


Guruku

 Karya Imas Masruroh

Betapa mulianya dirimu

Yang telah memberikan banyak ilmu

Dari yang tidak tahu

Menjadi tahu


Kini tibalah era industri 4.0

Yang mudah tuk cari pengetahuan

Tapi sosokmu takkan tergantikan


Dulu kami bagikan tanaman yang kekeringan

Yang butuh penyiraman

Dengan jasamu yang kau korbankan

Hingga kami jadi gemerlapan


Guruku hanya kata terima kasih yang bisa kami ucapkan

Atas pengorbananmu yang tidak akan kami lupakan

Kau adalah pahlawan kami

Yang telah menyebrangkan kami 

Dari jembatan kehampaan


Senin, 02 November 2020

Uang

 Karya: Imas Masruroh

Uang 

siapa gerangan

Namamu selalu dirindukan orang

Kau selalu dipuja dimanja

Dari yang melarat sampai konglomerat


Uang

Padahal Kau adalah benda mati

Tapi kau seakan urat nadi

Jika tak berdenyut lagi

Manusia tak bernafas kembali


Uang

Kau membuat orang jadi senang

Berangan angan, melayang layang

Menerjang, sampai mehilangkan nyawa orang


Uang

Kau juga membuat jiwa jadi tenang

Bertafakur kepada Yang Maha Tenang

Hingga menjadi terang benderang


Tersayat

 Karya: Imas Masruroh

Kalbuku  tersayat

Tetkala kudengar kulihat

Khabar cakrawala dunia

Akan nabiyullah dicerca

Dengan karikatur namanya

 

Apa kesalahan nabi kami

Nabi Muhammad Saw yang penyejuk hati

Yang menjadikan alam bumi 

Alam  yang penuh dengan rahmatan Lil alamin


Kita di dunia ini  sementara

Hanya perantauan yang ada

Dan dunia ini  fana

Kekekalan di alam ini tak ada


Apa yang kau muak

Dengan nabi kita

Yang tak pernah berbuat Mala petaka

Tapi kau begitu tega

Mengatakan itu hanya kebebasan berekspresi belaka

Tapi kami tak terima

Itu adalah sebuah penistaan agama


Ya Allah ya Tuhanku

Dengan fenomena ini apakah Engkau menguji 

Ataukah bumi ini  akan segera Engkau ambil

Jika Engkau menguji

Berilah kekuatan terhadap kami

Tuk melewati semua ini

Jika Engkau akan segera mengambil

Terima iman Islam kami


Kami mahkluk bumi

Tak ada daya dan upaya serta kekuatan

Kecuali hanya kepada Mulah

Kami berpasrah



Puisi ini terjadi ketika nabi Muhammad Saw di hina melalui karikatur oleh majalah satir Charlie Hebdo yang didukung oleh presiden Emmanuel marcon di Prancis.

Aku tidak tahu

Aku tidak tahu Apakah aku anak solehah Aku tidak tahu  Apakah aku murid yang baik Aku tidak tahu Apakah aku saudara yang baik Aku tidak tahu...