Berbicara tentang pengalaman menulis buku, saya termasuk orang yang juga baru menekuni bidang ini. Memang sih, dulu sewaktu SD pernah punya hobi menggambar dan bercita-cita menjadi seorang komikus. Namun entah mengapa cita-cita tersebut terbang entah kemana
Suatu hari saya terusik dengan postingan beberapa teman di FB. Diantaranya pak Alphian dan bu Tere. Mereka rajin sekali posting cerita/artikel setiap hari. Pikir saya saat itu, kok mereka mudah sekali mendapatkan ide dan menuangkannya dalam sebuah tulisan. Saya juga ingin seperti itu. Rasa penasaran yang semakin memuncak tersebut kemudian menuntun saya untuk bertanya ini dan itu.
Walhasil, gayung bersambut selang beberapa hari kemudian saya mendapatkan postingan untuk bergabung di WA Grup Menulis Angkatan 5. Inilah awal saya bertemu dengan Om Jay sang Inspirator. Melalui para narasumber hebat yang dihadirkan om Jay di setiap Webinar saya banyak mendapatkan pengetahuan serta sharing pengalaman diantaranya Pak Dedi Dwitagama, Paman Apiq, Prof. Eko Endrajit, dan narasumber hebat lainnya.
Taklukkan Tantangan Tergila
Menulis itu adalah pilihan. Bagi saya pribadi, menulis adalah sebuah tantangan. Pada awal bergabung di grup menulis, saya merasa begitu berat dan tak sanggup. Bukan karena tidak punya ide, tapi bingung harus mulai menulis dari mana. Untungnya Om Jay paling jago memberi kami tantangan menulis, beliau juga paling mengerti karakter kami dan selalu mampu memberi motivasi.
Pada hari Selasa, tepatnya tanggal 14 April 2020 Om Jay menghadirkan Prof. Eko Indrajit sebagai narasumber. Saya sangat kagum dengan sosok prof yang satu ini๐๐ . Selain cerdas, terkenal, dan super ramah, bagi saya pribadi beliu adalah satu- satunya profesor yang memberi kami tantangan tergila ๐. Sebab kami diberi tantangan menulis buku hanya dalam SEMINGGU dengan cara memilih salah satu tema yang ada di Ekoji Channel. Kami juga hanya diberi waktu semalam untuk mengambil keputusan. Besoknya sudah harus menyetor judul dan daftar isi (outline). Waduh, kebayang deh reaksi kami seperti apa saat itu.
Terima...tolak, terima nanti bagaimana, ditolak juga sayang. Ibarat orang mabuk asmara, selama 2 hari saya tak bisa tidur dan makan enak๐ . Akhirnya sampailah saya pada kata NEKAT. Pada hari Jumat, 17 April 2020 dengan harap-harap cemas karena sudah telat dari dateline yang diberikan, saya mencoba mengirim wa dan menyatakan kesanggupan saya menerima tantangan Prof. Eko. Alhamdulillah saya diberi kesempatan dan harus langsung menyerahkan bab 1 di hari Sabtu๐๐ช.
Konsekuensi dari NEKAT, saya harus jatuh bangun berjuang "menaklukkan tantangan". Kalimat ini kemudian diabadikan dalam salah satu judul bab buku "Design Thinking Membangun Generasi Emas dengan Konsep merdeka Belajar"…
NEKAT BERBUAH MANIS
Konsisten dan fokus, kunci menuju sukses. Semua memang berawal dari kata "Nekat". Namun modal nekat tanpa konsistensi adalah nol besar. Saya sudah membuktikannya. Bukan hanya dalam menerima tantangan menulis, tapi dalam pembelajaran dan keseharian hal inipun saya lakukan.
Buku Design Thinking adalah salah satu bukti bahwa resiko terbaik dari sebuah kenekatan adalah penerimaan dan pengakuan.
Bagi saya menulis harus didasari oleh 3 hal, yaitu : niat, tekad, dan nekat.
Ketiga hal ini berkaitan erat dan saking melengkapi. Niat merupakan tujun yang ingin dicapai. Pencapaian yang maksimal membutuhkan tekad (keinginan yang kuat). Dan untuk mewujudkan tekad tersebut kita harus nekat dalam arti memiliki keberanian.
3 hal dimaksud juga sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan keterampilan abad 21 peserta didik. Guru selaku agen perubahan harus mampu bersikap profesional baik dalam kapasitasnya sebagai tenaga pendidik, anggota keluarga maupun sebagai anggota masyarakat. Secara mendalam upaya tersebut dikupas tuntas dalam buku karya bersama Prof. Eko Indrajit.
Trik Ibu Jamilah dalam menyelesaikan buku
Mewujudkan sebuah karya dalam waktu singkat tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi saya yang merupakan seorang penulis pemula. Tentunya banyak kendala yang saya hadapi. Namun berkat niat, tekad dan nekat Alhamdulillaah karya tersebut termasuk sebagai salah satu karya yang lolos mulus di penerbit Mayor. Hal ini tentunya juga tidak terlepas dari bimbingan Prof. Eko yang sudah mendampingi kami dari awal, proses editing, hingga menghubungkan kami dengan penerbit mayor. Menulis buku di penerbit mayor juga salah satu impian saya dan teman2
Trik menulis buku dalam seminggu yang saya lakukan cukup simpel. Selain 3 hal yang sudah saya ungkapkan tadi, kita juga harus fokus dan konsisten. Intinya, tulislah apa saja yang terlintas dalam pikiran kita dengan sesegera mungkin. Jangan ditunda. Teruslah menulis. Abaikan masalah ejaan, tanda baca, dls. Selesaikan dulu hingga tuntas. Terakhir baru kemudian kita melakukan editing.
Untuk editing, kita bisa melakukannya sendiri (swasunting) atau meminta bantuan teman/orang yang ahli untuk melakukan editing.
Bagaimana dengan ketentuan jumlah halaman dan huruf ?
Untuk ketentuan halaman itu tergantung dari pihak penerbit. Untuk penerbit mayor biasanya minimal 75 hal. demikian pula halnya dengan jenis dan ukuran huruf. Sesuai ketentuan pihak penerbit. Kemarin saat kami memenuhi tantangan menulis dalam seminggu, kami diminta untuk menulis buku dengan jumlah halaman antara 100-200.
Outline buku Ibu Jamilah bersama Prof. Eko
![]() |
| Buku yang ditulis Ibu Jamilah |



https://youtu.be/YspVsvQWTSo
BalasHapusSaya suka kata magnet yang digunakan dalam judul๐๐
BalasHapusTerima kasih Bu, sudah berkenan di blog saya dan terima kasih ilmunya
BalasHapus